Dijuluki sebagai Grand Canyon-nya Nusa Tenggara Timur, Kelabba Maja memiliki keunikan alam sekaligus nilai sakral yang dilestarikan masyarakat Pulau Sabu.
Deretan tebing kapur berwarna merah tua, pink coklat, putih, dan kelabu ini diperkirakan terbentuk pada zaman pratersier atau lebih dari 70 juta tahun yang lalu. Pulau Sabu sendiri adalah percabangan dua jalur geantiklinal Busur Banda. Pulau ini dikelilingi terumbu karang yang tingginya mencapai 300 mdpl, salah satunya membentuk Kelabba Maja.
Menurut bahasa setempat, “kelabba” berarti tanah abu dan “maja” bermakna tempat para dewa. Warga sekitar meyakini bahwa Kelabba Maja merupakan tempat berdiamnya Dewa Maja atau dewa bagi masyarakat desa Wadu Medi, Hawu Mehara.
Ada tiga batu besar di lokasi ini yang melambangkan sosok bapak, ibu, anak, sekaligus menjadi tempat persembahan bagi Dewa Maja. Tiap purnama bulan Juli, warga setempat melakukan ritual pemotongan hewan kurban sebagai persembahan atas keselamatan dan kesuburan.
Mengunjungi Kelabba Maja membawa kita seperti kembali ke destinasi NTT sekitar empat sampai lima tahun lalu, saat fasilitas pendukung masih seadanya dan belum banyak dikunjungi wisatawan. Masuk ke pelosok pulau, tanpa penunjuk jalan dan tanpa sinyal. Sebuah “destinasi tersembunyi” dalam arti sebenarnya.










Diposting di Instagram








Leave a comment