Terpisah di sisi timur Pulau Flores, Alor memiliki keindahan alam dan budaya tradisional yang masih dijaga turun temurun, salah satunya adalah Kampung Adat Takapala.
Ada 21 anak tangga untuk menuju kampung adat ini. Sejak 1983, Takpala ditetapkan sebagai tujuan wisata oleh Dinas Pariwisata Alor. Sebagai kampung tradisional, Takpala memiliki belasan rumah adat berbentuk limas dan beratap ilalang yang disebut lopo.
Dalam bahasa Suku Abui, Takpala berarti kayu pembatas, berasal dari dua kata “tak” yang berarti batas dan “pala” yang artinya kayu. Suku Abui merupakan suku terbesar di Alor, biasa disebut juga Tak Abui, yang artinya Gunung Besar. Desa adat ini dulunya memang ada di pedalaman Gunung Alor, tapi kemudian dipindah ke bagian bawah, dekat pantai, agar memudahkan pembayaran pajak pada Raja Alor.
Suku Abui dikenal sangat ramah dan bersahaja pada pendatang. Keseharian mereka berladang singkong, jagung, dan berburu, sedangkan yang perempuan menenun. Tenun Takpala bermotif bunga, kepiting, kura-kura, dan ikan. Warna tenun ikat ini beragam ada yang hitam, merah, kuning, dan biru. Harga tenun ikat ini mulai Rp 150.000 hingga jutaan rupiah.
Selain tenun, warga juga menjual beragam benda kerajinan, seperti tas fulak yang terbuat dari anyaman bambu dan biasa digunakan untuk membawa sirih pinang atau menyimpan uang. Tas ini juga dikenakan saat menari lego-lego, tarian tradisional Suku Abui.


















Leave a comment